Cerpen TERTOLONG TABUNGAN INA

Posted by Unknown on Selasa, 20 Maret 2012

TERTOLONG TABUNGAN INA

Tidak seperti biasanya, cicih duduk termenung menyendiri ketika jam istirahat sekolah. Biasanya dia selalu gembira bermain dengan teman-teman sekelasnya. Kalau tidak main petak umpet, ya lompat karet.

Perubahan ini tentu menarik perhatian sebagian temannya, termasuk Ina. Sebenarnya Ina tidak terlalu dekat dengan gadis cilik yang hampir selalu diekor kuda rambutnya itu, tetapi hatinya jadi tergerak untuk mendekatinya karena kasihan.

“Cicih, kau baik-baik saja?” tanya Ina setelah duduk disamping Cicih. Gadis itu menoleh pelan dan tersenyum kecut.

“Kamu sakit, ya? Kalau sakit, ayo saya antar ke UKS. Biar kamu diberi obat, “kata Ina.

“Tidak saya tidak sakit, In. Saya baik-baik saja, Kok,” Jawab cicih.

“Ah kamu jangan menipu diri sendiri. Saya tahu kamu sedang sakit atau memikirkan sesuatu” Cicih terdiam.

“Benar, kamu tidak apa-apa?” tanya Ina.

“Sebenarnya tidak. Maksud saya, . . .,” kata Cicih Perlahan.

Mendengar jawaban temannya itu, sebenarnya Ina mau tersenyum, tapi ditahannya ia khawatir menyinggung perasaan Cicih.

“Cicih kamu ingat pesan Pak Guru bahwa kita harus saling memperhatikan dan tolong menolong? Nah, sekarang saatnya. Mungkin saya tidak bisa menolongmu, tapi paling tidak saya memperhatikanmu. Boleh, bukan?” tanya Ina.

“Kamu mau mampir kerumah saya sebentar sepulang sekolah nanti?” kata Cicih kemudian.

“Ada apa?” tanya Ina.

“Kuperlihatkan sesuatu,” jawab Cicih pendek.

“Baiklah,” jawab Ina.

Selama pelajaran terakhir, Ina nyaris tak bisa berkonsentrasi. Dalam hati dia bertanya tanya ada apa gerangan dirumah Cicih.

Sesampai dirumah Cicih, Ina merasakan suasana sepi. Cicih lalu mengajak Ina ke kamar tengah. Di sana ibu Cicih terbaring di tempat tidur. Wanita setengah tua itu sakit. Weajahnya pucat dan rambutnya dibiarkan tergerai. Meskipun sakit, melihat teman anaknya berkunjung, beliau mencoba tersenyum.

Ina menjabat tangan ibu Cicih dan menyapanya,” Sakit apa bu?”

“Entahlah. Ibu belum ke dokter. Belum ada uang. Bapak Cicih juga tidak sehat benar dua hari terakhir ini. Itu dia di dapur! Entah sedang apa dia. Hari ini dia tidak menjalankan bajajnya,” kata ibu Cicih.

Cukup bagi Ina keterangan itu. Cukup pula baginya untuk mengetahui mengapa Cicih begitu sedih di sekolah. Ina jadi ikut sedih. Dia bisa membayangkan, kalau bapak ibu yang menjadi tulang punggung keluarga sakit, akan repotlah keluarga itu. Ibu Cicih bekerja di rumah makan sebagai tukang cuci piring. Ayahnya sopir bajaj.

Lusa, tanggal 10 adalah batas akhir pembayaran uang buku yang jumlahnya cukup besar. Sementara itu, ibu Cicih juga perlu biaya untuk berobat. Kalau Cicih sedih, Ina bisa memahami. Bagaimana mungkin Cicih bisa mencari uang cukup banyak dalam waktu singkat seorang diri? Kedua orang tuanya jelas tidak mungkin menyediakan uang untuk dirinya.

Sesampainya dirumah, Ina menceritakan apa yang dialami teman sekolahnya itu kepada ayah dan ibunya. Abi kakaknya juga ikut mendengarkan.

“Lalu apa yang akan kamu lakukan?” tanya Pak Iman, ayah Ina.

“Ina ingin membantu Cicih, ayah,” jawab Ina

“Bagus. Itu anak baik namanya. Tapi, omong-omong, apakah kamu punya uang untuk membantu dia?” tanya ayah Ina kemudian.

“Ina diam sejenak, lalu tersenyum dan berkata, “Punya!”

“Lo, dari mana? Dari tabungan?” tanya ibu Ina. Ina mengangguk.

“Bukankah tabungan disekolah tidak bisa diambil, kecuali pada akhir tahun?” tanya ibunya lagi.

“Memang Ina masih punya tabungan lain dirumah” jelas Ina.

“Wah ternyata kaya juga anak kita Yah?” kata ibu Ina.

“Darimana kamu dapat uangnya?” tanya ayahnya.

“Saya tahu yah,” sela Abi”. Selama ini saya menabung sisa uang jajan yang diberikan ayah dan ibu kepada kami”

“Wah-wah, hebat benar anak Ayah!” komentar Pak Iman sambil membelai rambut Abi dan Ina.

“Sebetulnya, uang tabungan Ina akan belikan buku-buku cerita. Tapi Ina ikhlas, Kok membantu Cicih,” kata Ina.

“Ina, Ayah dan Ibu bangga akan niat baik kamu. Teruslah kalian menabung, suatu ketika kalian akan merasakan manfaatnya,” kata Bu Iman menasehati anaknya.

“Tentu, Bu!” jawab Abi dan Ina hampir bersamaan.

“Nah, Ina. Sekarang ambil uang tabunganmu secukupnya. Segera berikan uang itu kepada Cicih,” suruh Pak Iman kepada Ina.

“Ina segera masuk ke kamarnya. Ia senang dan bangga dapat membantu Cicih.

{ 0 comments... read them below or add one }

Posting Komentar