ETIKOLEGAL

Posted by cak umam on Senin, 25 Februari 2013

ETIKOLEGAL
“Artikel Bidan Berprestasi dan Bidan Yang Melanggar Kode Etik” 

Oleh:
Iddya Nurcahyati

NIM:120703019

Pembimbing:
Septi Fitrah,sst


STIKES PEMKAB JOMBANG







Eny Rahmawati Bidan Berprestasi
           DEMAK- Enam bidan di Kabupaten Demak mendapat penghargaan, karena dinilai terbaik dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Penghargaan diserahkan Bupati Drs H Tafta Zani MM dalam upacara Hari Kesehatan Nasional (HKN) Ke-45 di halaman RSD Sunan Kalijaga, kemarin. Hadir pula Wakil Bupati Drs HM Asyiq, Kepala Dinas Kesehatan dokter H Singgih Setyono MMR. Bidan berprestasi juga terbukti mampu mendorong kesadaran masyarakat untuk berperilaku hidup bersih dan sehat.
           Sebagai bidan prestasi utama adalah Eny Rahmawati yang bertugas di Desa Buko Wedung. Dia ditetapkan sebagai bidan terbaik tahun 2009 setelah menyisihkan ratusan bidan lain dalam penilaian bidan terbaik yang dilakukan Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Demak.


          Bersama Eny Rahmawati, sejumlah bidan lain juga menerima penghargaan. Bidan terbaik kedua Deny Rahmawati dari Desa Bonangrejo, Kecamatan Bonang, kemudian Dwi Admiyarsih, bidan Desa Kedungori, Dempet sebagai bidan terbaik ketiga. Sedangkan untuk kategori bidan koordinator terbaik adalah Sri Wuryani AM Keb dari Puskesmas Bonang I, Aidi Zulaikhah AM Keb (Puskesmas Wedung I), dan Setyarni AM Keb (Puskesmas Demak III). Sementara petugas gizi teladan diraih Muhimah dari Puskesmas Kebonagung.
           Selain itu, juga diserahkan penghargaan berbagai lomba yang telah dilaksanakan sebelumnya. Kepala Dinas Kesehatan dokter Singgih Setyono mengatakan, prestasi tersebut hendaknya memacu bidan lain untuk memberikan pelayanan kesehatan yang lebih baik lagi. Menurutnya, di setiap desa memiliki persoalan berbeda, sehingga memerlukan kreativitas bidan agar masyarakat di lingkungannya sadar akan pentingnya menjaga kesehatan dengan hidup bersih.


          Kepada bidan berprestasi, pihaknya meminta agar terus meningkatkan pelayanan. Humas Dinkes Demak Guvrin Heru Putranto mengatakan, HKN diperingati untuk lebih memotivasi masyarakat agar selalu berperilaku hidup sehat dan mampu mewujudkan lingkungan yang bersih dan sehat.
        ’’Kesehatan harus diawali dari diri yang sehat dan lingkungan sehat. Untuk itu, pengetahuan tentang kesehatan juga harus dimiliki oleh semua lapisan masyarakat.’’ (H1-37) (/)





Eulis Rosmiati,20 Tahun Menjadi Bidan Di Desa Sangat Terpencil Dan Tertinggal

Menjadi bidan di desa yang sangat terpencil di Jawa Barat, bagi Eulis Rosmiati, dianggap sebagai pengabdian. Hingga kini, 20 tahun sudah dia mengabdi. Masyarakat desa itu yang semula berpola hidup sangat tradisional sedikit demi sedikit berhasil diubah menjadi lebih maju. Jumat lalu (15/7), Eulis menerima penghargaan sebagai bidan teladan.


SENYUM ramah terpancar di wajah Eulis. Dengan logat Sunda yang kental, dia menyambut ramah kedatangan Jawa Pos yang menemuinya di sebuah rumah makan di kawasan SCBD, Jakarta Selatan, Kamis pekan lalu (14/7).
Sehari-hari, Eulis bekerja sebagai bidan di Desa Ujung Genteng, Sukabumi, Jawa Barat. Hari itu, dia berada di Jakarta karena menerima penghargaan sebagai bidan teladan.
Dengan senyum mengembang, Eulis mengungkapkan bahwa dirinya sangat gembira menerima penghargaan tersebut. "Gara-gara saya dapat penghargaan ini, Pak Gubernur (Gubernur Jabar Ahmad Heryawan) akhirnya berkunjung ke desa kami," kata perempuan 41 tahun tersebut.
Tidak hanya itu, ketika berkunjung ke desa tersebut, gubernur sempat menjanjikan kepada Eulis untuk segera membangun puskesmas. Begitu menyebut puskesmas, dua mata Eulis terlihat berkaca-kaca. Tak lama berselang, air matanya jatuh membasahi pipi. "Saya sangat senang. Sebab, sampai sekarang, desa kami tidak punya puskesmas," ungkapnya dengan suara bergetar lantas terisak.
Pendirian puskesmas memang menjadi dambaan Eulis. Sebab, selama ini, penanganan kesehatan warga di desa itu hanya bisa dilakukan seadanya di pondok kesehatan desa (poskesdes). Maklum, jarak puskesmas terdekat dari desa tersebut mencapai 30 km. Ongkos sekali jalan saat siang mencapai Rp 50 ribu dan naik 100 persen saat malam.
Ujung Genteng adalah sebuah desa di Sukabumi yang dihuni 4.438 penduduk dengan 1.251 KK (kepala keluarga). Potret sebagai desa tertinggal terlihat pada jumlah keluarga prasejahtera yang mencapai separonya. Sisanya termasuk dalam keluarga sejahtera 1 (mudah jatuh miskin).
Menurut Eulis, sangat sulit menuju Desa Ujung Genteng. Sebab, tidak banyak kendaraan umum yang tersedia. Selain itu, kondisi jalan masih sangat parah karena berlubang-lubang dan berkelok-kelok. Dari Kota Sukabumi, sedikitnya butuh lima jam perjalanan dengan mobil untuk menuju desa itu.
"Ketika awal-awal bertugas di desa itu pada 1991, saya sempat gundah," ceritanya. "Minimnya sarana dan infrastruktur serta sulitnya medan yang harus saya tempuh sempat membuat saya hampir menyerah," lanjutnya. Namun, kondisi yang sulit tersebut justru memacu semangatnya.
Yang menjadi cambuk bagi Eulis kala itu, di desa tersebut tidak ada lagi bidan. Sulitnya medan juga membuat dia yakin bahwa warga sangat mengandalkan kehadiran dirinya. Harapan tinggi wargalah yang akhirnya membuat lulusan sekolah bidan di Bandung tersebut bertekad untuk bisa berbuat sesuatu.
Dia mulai mempelajari karakteristik warga. Mulai pola menjaga kesehatan, budaya dalam persalinan, hingga penanganan dalam keadaan darurat. "Ternyata, semua masih dilakukan secara tradisional dengan sedikit klenik," jelasnya.
Dia lantas mencontohkan masalah persalinan. Setiap ibu yang akan bersalin (melahirkan) selalu dibawa ke dapur. Tak cukup itu, si ibu harus berada di kolong tempat tidur. Di kolong sempit itulah sang ibu berjuang melahirkan bayi bersama dukun. "Menurut keyakinan mereka, ibu melahirkan itu kotor. Karena itu, harus dibawa ke dapur," tuturnya.
Tidak hanya itu, jaminan kesehatan masyarakat (jamkesmas) dan jaminan persalinan (jampersal) hampir tidak berarti bagi warga Desa Ujung Genteng. Semua itu percuma. Sebab, untuk menuju rumah sakit terdekat, yakni RS Jampang, jaraknya mencapai 60 km dari Desa Ujung Genteng. Sebelum RS tersebut didirikan sekitar 2004, warga Ujung Genteng harus menuju wilayah Sekar Wangi, Sukabumi, dengan jarak 160 km.?
Yang membuat Eulis geregetan, warga desa sering ditolak masuk RS karena pasien sudah membeludak. Karena tanggung untuk balik ke desa, akhirnya mereka terpaksa mencari RS lain. Ibu tiga anak itu pernah menangani kasus persalinan dan terpaksa membawa ke Bogor hanya untuk berobat. "Transpornya saja sudah habis Rp 1 juta," ungkapnya.
Akhirnya, dia berpikir agar warga desa bisa mandiri. Saat panas-panasnya reformasi 1998, Eulis mulai menjalankan strateginya memberdayakan warga desa. Dia mulai membentuk kelompok arisan WC. Tujuannya, meningkatkan jumlah WC di setiap RT. Maklum, saat itu, sangat sedikit warga yang mempunyai WC di rumahnya. "Harapan saya, kesehatan warga bisa membaik," terangnya.
Cara arisan WC itu, warga saling memberikan subsidi silang untuk membuat WC. Dari program tersebut, jumlah WC di tiap-tiap RT meningkat. Kalau sebelumnya hanya 500 orang yang punya WC, sekarang sudah tinggal 100-an rumah yang tanpa WC. Eulis mengklaim, warga saat ini lebih bersih dan kesehatannya juga meningkat.
Selain itu, dia menciptakan program arisan sebagai dana cadangan kalau ada keperluan pengobatan dan biaya persalinan. Agar warga mau bergabung, program tersebut diberi nama unik: "Seliber".?Singkatan dari seliter beras. Yakni, program pengumpulan beras bagi para warga yang bekerja sebagai petani dengan cara mengumpulkan dua sendok beras setiap hari.
Dari program tersebut, dalam sebulan, setiap petani mempunyai 60 sendok beras yang setara dengan seliter beras. Beras dari seluruh petani itu dikumpulkan dan dijual kepada tengkulak. Hasilnya, uang tersebut dijadikan dana simpanan untuk keadaan darurat. "Gampangnya, petani yang butuh uang untuk berobat tinggal mengajukan," jelasnya.
Bagi para nelayan, ada pula arisannya, yakni Meronce Kasih. Polanya sama seperti arisan seliber. Bedanya, pada arisan Meronce Kasih, nelayan mengumpulkan sekilo ikan dengan kualitas paling rendah setiap pergi melaut. Pola yang sama diberlakukan bagi penyadap gula aren dengan mengumpulkan 2 kg aren per bulan.
Para penambang pasir juga memiliki arisannya, yakni diberi nama Limaribu Kasih. Caranya, mengumpulkan Rp 5.000 setiap bulan. Tidak hanya itu, Eulis juga menciptakan jaminan asuransi kesehatan yang disebut Askes Lembur. Itu merupakan asuransi kesehatan yang hanya berlaku di lembur (sebutan kampung, Red). "Semua untuk dana darurat kesehatan," paparnya.
Kemudian, dia menggagas rumah singgah. Yakni, pemberdayaan rumah warga sebagai tempat persalinan yang layak untuk ibu bersalin. Gagasan rumah singgah itu muncul karena pengalaman Eulis mengantarkan seorang ibu bersalin ke puskesmas terdekat saat malam dan hujan. "Medan yang berat membuat mobil terperosok di salah satu ruas jalan," kenangnya.
Dia lantas berjalan kembali ke desa dan membangunkan hampir seluruh warga RT untuk membantu membebaskan mobil yang terjebak di lumpur selama hampir sejam itu. Tidak mau kejadian tersebut terulang, dia lantas bernegosiasi dengan warga untuk menyediakan rumah mereka sebagai rumah singgah.
Warga yang memiliki rumah di tengah jalan dirayu agar mau menyediakan satu kamar untuk persalinan. Tidak mudah memang. Dengan berbagai alasan, akhirnya ada juga warga yang bersedia. Rumah singgah tersebut kemudian dilengkapi perlengkapan persalinan. "Ruangannya harus bersih, steril dan nyaman untuk persalinan," tambahnya.
Eulis juga rutin mengadakan Tabulin (Tabungan Ibu Bersalin) yang berarti persiapan dana saat melahirkan. Setiap hari, para ibu diminta mengumpulkan Rp 1.000. Uang tersebut nanti diberikan kepada ibu yang melahirkan lebih dulu.
Untuk menghilangkan batas antara wilayahnya dan daerah lain, dia menggugah warga untuk mendukung program ambulans desa. Namun, bukan patungan untuk membeli ambulans. Warga yang memiliki kendaraan seperti mobil, motor, atau kendaraan apa pun dimintai komitmen untuk membantu warga. "Digunakan oleh warga yang memerlukan kapan pun," tegasnya.
Saat ini, warga Desa Ujung Genteng telah merasakan manfaat pemikiran Eulis. Kegigihan Eulis membuat dirinya dinobatkan sebagai bidan teladan. Saat ini, dia masih menjadi satu-satunya bidan di desa tersebut.
 Dia berharap gubernur tidak mengingkari janjinya untuk membangun  puskesmas.




komentar:





Bidan Berprestasi Terima Penghargaan dari Presiden
      

           Bukan hanya Wahyu Eko Asmoro Widodo petani prestasi  akan menerima penghargaan dari Presiden RI Prof Dr.Susilo Bambang Yudhoyono. Salah seorang bidan di kabupaten PPU bernama Siti Nurhafiah yang bertugas sebagai tenaga perawat dan bidan di Polindes Kelurahan Nenang Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) juga akan menerima penghargaan dari Presiden.
           Bertandang keruang humas pemkab PPU, Rabu (10/8), Siti Nurhafiah didampingi pimpinan puskesmas Penajam Ahmad menjelaskan kronologis terpilihnya dirinya sebagai tenaga kesehatan teladan tahun 2011 mewakili kaltim menerima penghargaan yang direncanakan diterima diistana Negara “ rencananya kami akan berangkat keJakarta tanggal 14/8 nanti” kata Siti Nurhafiah
          Dikatakannya, dengan dipilihnya dirinya mewakili bidan dikaltim sebagai tenaga kesehatan teladan, merupakan kebanggaan dan menjadi motivasi kepada bidan lain untuk lebih memberikan pelayanan dengan baik kepada warga
          Siti menjelaskan keberhasilan tersebut tidak diterima tampa perjuangan yang tinggi, karena sejak diangkat menjadi tenaga bidan 17 tahun perjuangan banyak dilalui, dan selama menjadi bidang di polindes Nenang, selain kelengkapan administrasi,  dirinya juga aktig dalam setiap kegiatan dimasyarakat, serta memberikan pelayanan secara maksimal kepada seluruh warga,” sebagai tugas kami, harus memberikan palayanan kepada warga terutama kepada ibu bersalin, dan seluruh pelayanan kami kerahkan untuk keselamatan ibu dan anak” katanya
          Sementara kepala puskesmas Penajam Ahmad mengatakan, dengan keberhasilan salah satu anggotanya mewakili kaltim, menjadikan sebagai motivasi dan dorongan agar pada tahun depan prestasi tersebut dapat dipertahankanSelain itu, Ahmad yang memimpin delapan puskesmas pembantu (pusban) dan delapan polindes pada  Sembilan kelurahan serta didukung  24 orang bidan, marasa bangga atas prestasi tersebut
          Ahmad menambahkan, berdasarkan surat dari dinas kesehatan Provinsi Kaltim nomor 440/3502/Yankes/VI/2011 tanggal 27 Juni tentang Penetapan tenaga kesehatan teladan puskesmas tahun 2011, menetapkan bahwa nama –nama tenaga kesehatan teladan antara lain, Drg Ida Higyawati dari Puskesmas Sumber Rejo Balikapapan, Siti Nurhafiah,Amd dari Polindes Nenang Kecamatan Penajam, Suriami SKM dari Puskesmas Muara Badak Kutai Kartanegara dan Agus Prihantoyo tenaga gizi asal kota Puskesmas Suber rejo Balikpapan
          Sementara ketua Ikatan Bidan Indosesia (IBI)Hj Aminah saat di konformasi mengatakan dengan keberhasilan salah satu anggota IBI mewakili Kaltim yang menerima penghargaan dari presiden tanggal 17 agustus nanti  merupakan hadiah istimewa hut IBI di PPU.
          Untuk mendukung kegiatan dan etos kerja bagi anggota Ibi, Hj Aminah menjelaskan sebelum HUT ibu diksanakan beberapa waktu lalu, dirinya bersama seluruh anggota ibi melakukan audensi dengan Bupati penajam Paser Utara H.Andi Harahap, diruang kerjanya.
          Melalui Hj Aminah, Bupati menyampaikan kepada anggota ini akan memberikan penghargaan kepada bidan berperestasi” waktu kami audensi dengan bapak bupati pada acara HUT IBI  lalu, beliau (bupati) menyampaikan akan memberikan hadiah kepada bidan yang mengharumkan nama daerah” Jelas Amina ( Humas 7/ Sumardi)

Merubah Adat di Tepian Batanghari

Nama                         :         Bidan Meiriyastuti


Usia                           :         32 tahun


Bidan                         :         Sejak tahun 1998


Lokasi                        :         Desa Teriti, Kecamatan Sumay, Kabupaten Tebo,


                                             Propinsi     Jambi


Penghargaan              :         tenaga kesehatan teladan puskesmas tingkat nasional


                                             2011 (dari menkes)
          Bidan Meriyastuti adalah seorang bidan muda yang mendedikasikan dirinya untuk perbaikan status kesehatan ibu dan anak di Desa teriti, tepian Sungai Batang Hari. Desa Teriti merupakan desa terpencil berpenduduk sekitar 932 Jiwa yang sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani. Desa ini dapat ditempuh selama enam jam perjalanan darat dari kota Jambi melalui Sungai Batanghari. Diawal pengabdiannya, Bidan Meiriyastuti merasakan kesulitan untuk dapat diterima oleh adat masyarakat.
           Terkait masalah kesehatan misalnya, banyak orang tidak mau menuruti anjurannya karena mereka lebih percaya kepada dukun. Begitupula untuk urusan persalinan, hampir semua masyakarat di Desa Teriti masih mempercayakan penanganan kelahiran kepada nyai dukun dengan penanganan partus yang salah dan ritual adat pasca kelahiran yang merugikan kesehatan ibu dan bayi.

        
            Bidan Meriyastuti menerjang sungai Batanghari demi tugas.Salah satunya adalah pantangan makan makanan bergizi bagi ibu nifas. Menurut adat, selama 40 hari pasca melahirkan ibu hanya diperbolehkan mengkonsumsi nasi putih dan kecap asin dengan alasan dilarang oleh dukun karena akan mendatangkan sakit pada bayi yang mereka susui apabila mereka makan sayuran dan ikan. Kebiasaan ini berakibat kurang baik bagi kesehatan ibu dan bayi karena dapat menimbulkan kekurangan nutrisi.Selain itu, terdapat pula ritual Nyebur ke Ayek, dimana 7 hari setelah dilahirkan, bayi akan dimandikan dengan air kembang di sungai Batang Hari yang dingin. Menurut adat, hal ini perlu dilakukan untuk memperkenalkan anak ke dunia luar tempatnya hidup nanti. Padahal hal ini bisa membahayakan keselamatan bayi. Pernah suatu ketika seorang bayi prematur meninggal karena hipotermia karena dimandikan di sungai yang dingin.
          Agar dapat diterima oleh masyarakat, Bidan Meiriyastuti berusaha melakukan pendekatan dengan mencari keluarga angkat, mendekati perangkat desa, membentuk kader-kader terpercaya serta merangkul dukun-dukun setempat. Ia bahkan menikahi seorang pemuda dari desa setempat. Butuh waktu 11 tahun bagi bidan untuk mendapatkan kepercayaan dari nyai dukun yang kini telah bermitra dengannya. Berkat pendekatan dari bidan yang tak kenal lelah, ritual Nyebur Ke Ayek kini telah dimodifikasi dengan cara yang lebih aman bagi bayi. Tanpa mengurangi penghormatan kepada adat istiadat, Nyebur ke Ayek kini tetap dilakukan dengan menggunakan airhangat dan bayi dimandikan di dalam air kembang di dalam baskom di halaman rumah. Seluruh proses kelahiran di desa Teritik ini dilakukan bersama-sama oleh bidan dan nyai dukun.

Memadam Api di Batas Negeri

Nama                         :           Bidan Rosalinda Delin


Bidan                         :           Sejak 1991


Lokasi                        :           Desa Jenilu, Kec. Kakuluk Atapupu, Kabupaten Belu,


                                               Nusa  Tenggara Timur


Penghargaan              :            tenaga kesehatan terbaik NTT 2000
        

          Bidan Rosalinda Delin bertugas di Desa Jenilu, Kecamatan Kakuluk, Atapupu adalah sebuah perkampungan nelayan di Kabupaten Belu, NTT. Desa ini hanya berjarak 12 kilometer dari perbatasan Timor Leste dan terdapat banyak eks pengungsi yang masih tinggal di daerah tersebut dengan kondisi yang cukup memprihatinkan.
          Di desa ini terdapat budaya Panggang Api pasca-persalinan yang telah diwariskan secara turun-temurun sejak jaman nenek moyang. Seusai melahirkan, ibu dan bayinya dibaringkan sambil dipanasi bara api yang menyala dari kolong tempat tidur selama 40 hari. Menurut orangtua, kebiasaan ini ditujukan untuk menghangatkan badan ibu dan bayi.

        

           Bidan Rosalinda tergerak untuk menghapuskan budaya panggang api di wilayahnya dengan memberikan sosialisasi ke rumah - rumah.Meskipun bertujuan baik, budaya Panggang Api mempunyai beberapa efek negative bagi kesehatan ibu maupun bayi. Ibu melahirkan yang melakukan panggang api akan terlihat pucat karena anemia dan mengeluarkan banyak keringat. Sementara bayi yang baru dilahirkannya sangat rentan terkena gangguan pernapasan atau pneumonia. 
          Melihat permasalahan ini, Rosalinda Delin, bidan desa yang bertugas di Puskesmas Atapupu- Belu merasa terpanggil untuk menghilangkan kebiasaan Panggang Api di wilayahnya. Ia melakukan kunjungan kesetiap rumah ibu yang baru melahirkan dengan memberikan informasi dan penjelasan mengenai bahaya kebiasaan panggang api ini.Tidak hanya mendatangi rumah, Ibu Rosalinda Delin juga memberikan pengarahan kepada segenap anggota keluarga ibu melahirkan. Mereka dikumpulkan di suatu tempat untuk memanggang ikan bersama-sama.
          Dengana cara bakar ikan seperti ini, bidan berusaha menganalogikan tubuh manusia yang dipanggang api dengan seekor ikan yang dibakar. Apabila dipanaskan terus ikan akan kering dan kehabisan darah, begitu pula tubuh manusia. Berkat usaha Ibu Rosinda Delin, saat ini sudah tidak adalagi ibu melahirkan di Desa Jenilu yang melakukan budaya Panggang Api.

Komentar:
Melebur Adat di Bumi Mandar

Nama                                    :               Bidan Sri Ariati                                   :


Bidan                                    :               sejak tahun1973


Lokasi                                   :               Kab Majene
        

           Bidan Sri Ariati mengabdi di kelurahan Banggae, kabupaten Majene; Sulawesi Barat sejak tahun 1980. Bidan berdarah Jawa ini telah banyak melakukan perubahan demi kebaikan masyarakat Majene, bahkan hingga di masa pensiunnya saat ini.
          Kabupaten Majene terletak sekitar enam jam perjalanan darat dari kota Makassar. Pada tahun 2010 tercatat jumlah penduduk Kabupaten Majene adalah sebanyak 150.939 jiwa, dengan jumlah penduduk terbanyak berada di Kecamatan Banggae dan Kecamatan Banggae Timur.
          Awal masa tugasnya di Majene, bidan Sri Ariati menemui kendala perbedaan bahasa. Masyarakat Majene umumnya menggunakan bahasa Mandar sebagai bahasa ibu. Permasalahan bertambah lagi dengan banyaknya dukun bersalin atau yang biasa disebut ”sando”. Jumlah sando di Kabupaten Majene sebanyak 172 orang, sedang jumlah bidan hanya 95 orang.
           Di wilayah kerjanya sendiri terdapat 18 orang sando.Selain menolong persalinan, para sando juga menganjurkan setiap ibu yang baru melahirkan untuk mengangkat air dari sumur ke rumah. Kebiasaan ini sudah menjadi tradisi turun-menurun di Kabupaten Majene. Hal ini cukup membahayakan, bahkan pernah ada kasus seorang ibu yang pingsan sehabis melakukan tradisi angkat air karena kelelahan karena ia juga harus menyusui bayi kembarnya.
          Untuk dapat melakukan perubahan di masyarakat, langkah yang pertama dilakukan oleh bidan Sri Ariati adalah berusaha mendekati para sando untuk diajak bermitra karena setiap ibu di sana memiliki sando kepercayaannya sendiri-sendiri. Namun hal ini bukanlah hal yang mudah, karena para sando umumnya hanya bisa berkomunikasi menggunakan bahasa mandar. Untuk itu bidan Sri Ariati mulai mempelajari bahasa Mandar secara perlahan-lahan.


          Saat bidan Sri Ariati mulai bisa sedikit bahasa Mandar, ia lebih mudah berkomunikasi dengan sando dan masyarakat secara umum. Ia terus mengunjungi satu persatu rumah sando untuk menjalin kerjasama dengan mereka. Terkadang ia memberikan penyuluhan kepada ibu-ibu di rumah sando dengan menggunakan bahasa mandar yang masih terbata-bata.Melalui pendekatan yang intensif selama empat tahun, akhirnya bidan Sri Ariati sukses merangkul 18 orang sando di wilayah kerjanya untuk melakukan kemitraan.
           Budaya mengangkat air juga sudah tidak dilakukan lagi. Saat ini bidan Sri Ariati bukan hanya seorang bidan, tetapi juga tokoh yang dihormati. Masyarakat di desanya memberinya julukan ”Daeng Sombere” yang berarti si peramah.

Menuju Generasi Sehat di Tanah Deli

Nama                                     :               Bidan Dewi Susila


Usia                                       :               32tahun


Bidan                                     :               sejaktahun1998


Lokasi                                    :               Desa Tanjung Morawa – A, Kec. Tanjung Morawa,


                                                               Kabupaten Deli Serdang


Penghargaan                          :               Bidan desa terbaik 1 kab. Deliserdang 2009
        

          Bidan Dewi Susila adalah seorang aktivis pencegahan HIV/AIDS usia dini di Kecamatan Tanjung Morawa, Deli Serdang, Sumatera Utara. Kecamatan Tanjung Morawa terletak di kawasan Industri yang berjarak kurang lebih 60 kilometer dari kota Medan. Mayoritas penduduk di daerah ini bermata pencaharian sebagai buruh pabrik. Daerah ini merupakan wilayah kecamatan dengan angka penyebaran HIV paling tinggi di kabupaten Deli Serdang. Saat ini tercatat ada 138 kasus HIV/AIDS yang umumnya ditularkan melalui penyalahgunaan narkoba suntik.

           Penyalahgunaan narkoba cukup marak di kalangan pemuda Tanjung Morawa akibat anggapan bahwa mengonsumsi narkoba adalah tren yang patut diikuti. Kondisi ini diperparah dengan kekurangpahaman mereka akan bahaya dan cara penularan HIV/AIDS. Hal inilah yang kemudian menjadi penyebab tingginya angka infeksi HIV/AIDS di wilayah ini. Melihat permasalahan tersebut, bidan Dewi Susila merasa terpanggil untuk melakukan pencegahan penularan HIV/AIDS sejak dini. Bidan meyakini, usia remaja merupakan usia yang tepat untuk mendapatkan melalui program “Kesan Pertama”. Secara umum, program ini merupakan kegiatan penyuluhan kesehatan bagi remaja yang dikemas secara menarik dan menyenangkan. Remaja merupakan cikal bakal terbentuknya keluarga sekaligus usia paling rentan terpengaruh narkoba. Untuk itu bidan Dewi Susila memfokuskan programnya untuk menyasar kelompok usia ini.

          Dalam pelaksanaan program KesanPertama, bidan mendatangi secara langsung kegiatan rutin kelompok remaja desa dan sekolah untuk memberikan pendidikan kesehatan dan Tanya jawab. Materi yang disampaikan antara lain penyuluhan kesehatan reproduksi, motivasi, kepemimpinan, pendewasaan usia perkawinan, diskusi tentang perilaku hidup bersih dan sehat, penyalahgunaan narkoba, dan pencegahan HIV/AIDS. Kesan Pertama dilaksanakan secara bertahap dan berkesinambungan. Program ini diselenggarakan melalui pertemuan rutin yang diadakan setiap bulan dan ditutup dengan acara puncak yang diadakan setiap tahun. Acara puncak dari program ini adalah kegiatan kemah dan outbond bersama yang melibatkan pembicara kesehatan, remaja, ibu-ibu dan lansia. Sejauh ini program Kesan pertama telah melibatkan 180 orang yang mayoritas adalah remaja. Mereka yang terlibat dalam program ini nantinya disiapkan untuk menjadi agen penyebar informasi mengenai bahaya dan cara penularan HIV/AIDS. Melalui program ini pula terungkap para penderita HIV/AIDS baru yang akhirnya mau memeriksakan diri untuk mencegah penularan penyakit ini ke orang lain.



Komentar: 
KB Pria Tanda Cinta

Nama                     :               Bidan Ni Nyoman Rai Sudani


Usia                       :               51 tahun


Bidan                     :               sejak tahun 1982


Lokasi                    :               Kecamatan Abiansemal, Kab. Badung, Bali


Penghargaan          :                juara 1 lomba KB pria, kab. Badung
        

          Ni Nyoman rai Sudani, lahir di Badung, Bali pada 28 Oktober 1960. Sebagai bidan di puskesmas Abiansemal 3, Badung, Bali beliau aktif mempromosikan KB pria (Vasektomi) di wilayahnya.
          Kecamatan Abiansemal berlokasi sekitar 15 Km dari pusat Kabupaten Badung, Bali. Mayoritas penduduknya berprofesi sebagai petani di samping pedagang dan tukang.Untuk mewujudkan keluarga kecil bahagia sejahtera, Ibu Rai Sudani menjadi mitra warga Abiansemal yang ingin melakukan program keluarga berencana (KB). Namun selama melayani peserta KB di daerahnya, beliau banyak menerima keluhan dari para ibu yang bermasalah dengan alat kontrasepsi yang dipakainya. Masalah yang dihadapi biasanya berhubungan dengan menstruasi yang tidak lancar, sakit, dan mengeluarkan terlalu banyak darah. Selain itu 5 pasiennya tetap hamil walau sudah ber-KB.
          Masalah ini teryata juga pernah dialami oleh Bidan Rai Sudani sendiri beberapa tahun yang lalu sebelum suaminya memutuskan untuk mengikuti KB Vasektomi. Berdasarkan pengalamanya, KB Vasektomi mampu menghindarkan perempuan dari efek samping pemakaian kontrasepsi wanita namun aman bagi pria. Berangkat dari pengalaman ini Ibu Rai Sudani kemudian tergerak untuk mempromosikan KB Vasektomi di kecamatan Abiansemal.
          Kegiatan promosi KB Vasektomi ini antara lain melakukan konseling kepada calon akseptor. Akseptor ini diprioritaskan dari keluarga kurang mampu dan mempunyai anak lebih dari 2. Selain itu juga diadakan pertemuan rutin para akseptor vasektomi setiap bulan. Usaha mempromosikan KB Vasektomi ini bukan tanpa masalah. Masyarakat sampai saat ini masih mempercayai rumor bahwa KB Vasektomi dapat menimbulkan gangguan dan mengurangi kenikmatan berhubungan seksual bagi pemakainya. Padahal berdasarkan pengalaman selama ini, para akseptor vasektomi tidak mengalami masalah seperti itu. Justru melindungi istri untuk terhidar dari efeksamping dari kontrasepsi. Bidan Rai Sudani telah menghimpun 15 orang peserta Vasektomi yang kini menjadi promotor kepada anggota masyarakat yang lain.

Komentar:






Bidan Dekat Bersalin Selamat

Nama                         :           Bidan Ponirah


Usia                           :           43 tahun


Bidan                         :           sejak tahun 1990


Lokasi                        :           Desa Harjatani, Kabupaten Serang, Banten
         

         Ibu Hj. Ponirah Lahir di Lampung pada 2 Mei 1968. Sejak 1995 beliau merintis Bidan Praktek Swasta (BPS), sebuah unit pelayanan kesehatan mandiri di Desa Harjatani, Kecamatan Keramat Watu, Serang Banten. Namun, karena lokasi tersebut berada di perbatasan desa Waringin Kurung, beliau lebih banyak melayani warga desa ini dibandingkan warga Harjatani.Desa Waringin Kurung dan Harjatani terletak kurang lebih 25 kilometer dari Kota Serang. Mayoritas penduduk di desa ini bermata pencaharian sebagai petani salak dengan rata-rata penduduk masih berada di bawah garis kemiskinan.
          Karena lokasinya yang jauh dari rumah sakit, kehamilan dan persalinan di desa ini lebih banyak di tolong oleh dukun beranak atau “Parai”. Hal ini menyebabkan proses persalinan menjadi beresiko hingga berdampak pada tingginya angka kematian ibu dan bayi. Kebanyakan kasus kematian bayi terjadi akibat dukun yang masih menangani persalinan tidak normal tanpa menganjurkan ibu untuk dirujuk ke rumahsakit.Berangkat dari masalah tersebut, Bidan Ponirah terinspirasi untuk mendirikan Bidan Praktek Swasta (BPS) di tempat tinggalnya. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kesehatan serta mengurangi angka kematian bayi di Waringin Kurung dan Harjantani.
          Kegiatan di BPS ini meliputi pemeriksaan kehamilan, pertolongan persalinan normal, senam hamil, konsultasi reproduksi, KB, imunisasi, dan konsultasi gizi balita.Selain kegiatan tersebut, melalui Bidan Ponirah juga menjalin kemitraan dengan 10 dukun bayi di wilayahnya. Dengan kemitraan ini semua proses persalinan di desa Waringin Kurung dan Harjatani berada di bawah pengawasan bidan.
          Dengan adanya BPS ini, warga mendapatkan layanan kesehatan dan konsultasi yang siaga 24 jam. Dengan demikian keselamatan persalinan dan warga masyarakat secara umum lebih terjamin.

Komentar:






Modal Koperasi Bekal Mandiri

Nama                :             Bidan Sri Puayah


Usia:Bidan       :             sejak tahun 1996


Lokasi              :              Kel. O. Mangunharjo Kec Purwodadi Kab. Musi Rawas


                                                           Sumatera Selatan


Penghargaan    :              bidan terbaik 1 kab. Musi rawas (2001), bidan terbaik 2 prop. Sumsel


                                                          (2002), Bidan delima sumatera selatan (2008)
          Bidan Sri Puayah lahir di Musi Rawas, 05 Agustus 1977.  Terhitung Juli 2011 beliau bertugas di Desa O. Mangunharjo kecamatan Purwodadi, kabupaten Musi Rawas. Sebelumnya beliau bertugas di Desa P1  Mardiharjo dan mempelopori berdirinya Koperasi Simpan Pinjam Barokah. Meskipun pindah tugas, beliau masih aktif di koperasi ini.Desa p1 Mardiharjo berlokasi…. Dengan mayoritas penduduk bermatapencaharian sebagai.. (kondisi geografi dan ekonomi warga)
          Selama mengabdi di desa ini Sri menyadari bahwa perannya sebagai bidan sangat besar, mengingat profesi bidan berhubungan langsung dengan kehidupan bermasyarakat bukan di bidang kesehatan saja. Keinginannya untuk berbuat lebih banyak demi Desa membuka pikirannya untuk mendirikan koperasi yang nantinya dapat bermanfaat bagi masyarakat khususnya di bidang kesehatan.Melalui musyawarah dan mufakat bersama akhirnya bersama masyarakat dibentuklah koperasi JPKM Barokah pada Agustus tahun 2002 beranggotakan 34 orang. Hasil usaha dari system koperasi ini dialokasikan untuk berbagai program perbaikan kesehatan ibu dan anak di desa P1 Mardiharjo.
          Awalnya bidan Sri Partiyah mendirikan koperasi barokah untuk membantu ibu-ibu melaksanakan proses persalinan maupun pemeriksaan kehamilan. Namun, pada2007 pemerintah mengeluarkan program  jaminan persalinan (Jampersal) untuk warga kurang mampu. Dengan demikian bidan mengalihkan fungsi koperasi social Barokah menjadi koperasi yang nantinya bisa membantu ibu-ibu dalam mendirikan usaha rumahtangga maupun usaha lain yang nantinya bisa menambah pendapatan bagi keluarga mereka.Selain bantuan modal untuk meningkatkan pendapatan, Koperasi Barokah juga perperan dalam perbaikan gizi ibu hamil, pemberian makanan tambahan bagi balita, dan perbaikan gizi bagi lansia.
           Beberapa hasil positif yang didapatkan dengan adanya koperasi ini antara lain :
• Gizi ibu hamil terpenuhi selama kehamilan sampai akhirnya ibu bayi sehat dan selamat.
• Terpenuhinya pemberian ASI eksklusif bagi bayi
• Kasus BGM dan BGT di desa teratasi yang terkoreksi dari berat badan balita naik, dan berada pada   garis normal
• Kunjungan Posyandu Lansia bertambah
• Dari danayang diberikan, keluarga memiliki usaha industri rumah tangga sebagai tambahan penghasilan bagi  keluarga. Usaha yang ada berupa produksi makanan ringan.





Komentar:


























Bidan Sunarti Peraih Srikandi Award Mendapat Ucapan Bupati
Kamis,20 Desember 2012

          WATES (KR radio) Bupati Kulonprogo dr. H. Hasto Wardoyo, Sp.OG(K) menyampaikan selamat atas keberhasilan bidan Sunarti yang bekerja di Puskesmas 2 Kokap sebagai bidan terbaik nasional dengan kategori Inisiatif Pemberdayaan Ekonomi Pangan dan mendapatkan penghargaan Srikandi Award 2012 dalam Pos Bhakti Bidan yang diselenggarakan oleh Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Pusat.
          “Dengan keberhasilan seorang bidan di Kulonprogo juga mendukung visi kabupaten Kulonprogo yang sehat, mandiri, berprestasi, adil, aman dan sejahtera berdasarkan iman dan taqwa, yang dilakukan bu Bidan ini mencerminkan suatu bentuk kegiatan yang luar biasa, selain berprestasi juga mandiri karena memberikan suatu pembelajaran kepada masyarakat sekitar bagaimana supaya kegiatan-kegiatan penunjang kesehatan mengadakan suatu sumber gizi yang untuk memenuhinya dengan membudidayakan jamur, sayur-sayuran, sungguh  luar biasa karena mempunyai inovasi yang tidak egoisme sektoral hanya dalam bidangnya sendiri, tapi mau keluar dari bidang garapannya untuk peduli terhadap masalah budidaya, “terang Hasto di rumah dinasnya, Kamis (20/12).Terkait pelayanan persalinan di tingkat nasional  60 persen ditangani bidan dan 5 persen oleh dokter ahli kandungan serta sisanya dari non medis.
Kondisi di Kulonprogo menurut Hasto, pelayanan sudah tinggi  karena 90 persen persalinan telah ditangani tenaga medis terdidik, dukun bayi juga sedikit.
          “Permasalahannya meskipun ditangani medis masih banyak kekurangan sehingga tinggal menyempurnakan, di Kulonprogo pada tahun 2012 yang melahirkan meninggal ada 3 orang dan itu terendah, itu semua tidak ada yang terlantar di rumah semua sudah upaya medis yang maksimal,”terang Hasto.
          Hasil penjurian telah memutuskan nama-nama bidan terbaik dalam menjalani Pos Bhakti Bidan karena dinilai sesuai kriteria juri serta berhasil guna saat diterapkan di daerah bidan masing-masing.
          Penghargaan dibagi menjadi tiga kategori, yaitu Inisiatif Pemberdayaan Ekonomi dan Pangan yang dimenangkan oleh Bidan Sunarti dari  Kokap, Kulonprogo, D.I Yogyakarta, Inisiatif Peningkatan Kesehatan Anak yang dimenangkan oleh Bidan Rahmi dari Muna, Sulawesi Tenggara, dan Inisiatif Peningkatan Kesehatan Ibu yang dimenangkan oleh Bidan Siti Kholifah dari Pacitan, Jawa Timur.
          Bidan Sunarti dinobatkan sebagai pemenang berkat Inisiatifnya dalam meningkatkan taraf ekonomi di desanya. Ia mensosialisasikan pentingnya gizi seimbang, serta bagaimana memenuhi kebutuhan gizi tersebut. Sosialisasi juga mencakup cara pengolahan makanan bergizi dengan berbagai variasi.
          "Keadaan ekonomi di Desa Kokap masih kurang baik. Ibu Rumah Tangga hampir seluruhnya masih bergantung pada suami untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Dengan program sosialisasi yang saya jalankan, saya bisa mengajak para ibu untuk ikut aktif menanam jamur dan berbagai macam sayuran lain di pekarangan rumah. Jamur dan sayuran dapat diolah menjadi sumber pangan yang bergizi yang dapat menambah gizi anak mereka dan jika hasilnya berlebih bisa dijual," ungkap Sunarti. (dani wibisono)





{ 0 comments... read them below or add one }

Poskan Komentar